Lewati ke konten
Bahan Bangunan

Cara Menghitung Kebutuhan Besi Sengkang

Kebutuhan sengkang ditentukan dari panjang zona, jarak pemasangan, jumlah potongan, panjang potong, diameter, berat per meter, sambungan, dan waste.

Pada pekerjaan pembesian terbagi menjadi dua pekerjaan, yaitu tulangan utama (longitudinal) dan tulangan sengkang atau di lapangan lebih dikenal sebagai begel yang merupakan sebagai pengikat tulangan utama. Selain sebagai pengikat, tulangan sengkang juga sebagai penahan gaya geser pada suatu elemen struktur beton bertulang.

Pada pekerjaan pembesian, satuan volume yang digunakan pada saat penyusunan RAB adalah kilogram (kg) berdasarkan Analisa Satuan Harga Pekerjaan (AHSP). Pekerjaan pembesian tentunya material yang dibutuhkan adalah besi beton dan bendrat yang dimana pada pasaran besi beton dijual per batang.

Penting bagi seorang estimator bisa menghitung volume pekerjaan, tidak terkecuali volume pekerjaan pembesian sengkang. Supaya bisa memperoleh biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan nantinya.

Menghitung Kebutuhan dan Volume Tulangan Sengkang

Sebagai contoh kali ini yang dihitung adalah kebutuhan sengkan pada balok. Untuk sloof dan balok umumnya cara perhitungannya sama.

Denah dan detail balok atau sloof diperlukan untuk menghitung volume dari tulangan sengkang yang digunakan pada suatu bangunan. Misalkan pada bangunan, desain balok yang digunakan adalah seperti berikut.

Denah balok dan detail untuk sengkang

Langkah-langkah perhitungan disertai penjelasannya bisa dibaca di bawah ini.

1. Hitung jumlah tulangan sengkang yang diperlukan

Pertama kita hitung terlebih dahulu berapa jumlah sengkang yang dibutuhkan berdasarkan panjang total balok yang bisa didapatkan dari gambar denah balok.

a) Panjang total bersih balok

Untuk memudahkan perhitungan, hitung masing-masing berdasarkan balok arah X dan balok arah Y pada denah.

Denah balok dan detail untuk sengkang

Supaya jelas pada denah saya kasih warna sesuai dengan arah sumbunya. Arah X berwarna merah. Arah Y berwarna hijau.

X = 3 + 6 + 6 + 6 = 21 m

Y = 7 + 9 + 9 = 25 m

Lkotor = X + Y = 21 + 25 = 46 m

Lalu dikurangkan dengan lebar kolom, pada denah panjang dihitung dari As ke As, sedangkan sengkang balok hanya ada pada baloknya, tidak terdapat di join antara kolom dan balok.

Pada gambar, dapat diketahui jumlah kolom adalah 11 buah dan dengan lebar dimisalkan 30 cm yang jika dikonversikan ke meter 0,3 m

Lbersih = Ltotal – (b.kolom x n.kolom)

             = 46 – (0,3 x 11) = 42,7 m

b) Jumlah tulangan sengkang yang dibutuhkan

Sesudah mendapatkan panjang total bersih dari balok, selanjutnya bisa dihitung jumlah sengkang yang dibutuhkan dengan persamaan berikut.

n = (Panjang bersih balok / Jarak antar sengkang)+1

Pada gambar di atas, dapat diketahui jarak antar sengkang adalah 150 mm, jika dikonversikan ke meter maka akan menjadi 0,15 m

n = (42,7/0,15)+1

   = 285,667 dibulatkan, 286 buah

Bagaimana jika jarak antar sengkang berbeda antara tulangan lapangan dan tumpuan? Bisa dirata-ratakan. Misalkan tulangan lapangan 200 mm dan tumpuan 100 mm, jika dirata-ratakan hasilnya 150 mm.

2. Hitung panjang total pemotongan tulangan sengkang

Panjang yang dimaksudkan disini adalah panjang pemotongan besi beton yang nantinya akan dibentuk menjadi sengkang dari sebuah balok. 

Saya sudah membuat artikel sendiri yang membahas tentang menghitung panjang tulangan sengkang, bisa dibaca dulu cara dan penjelasan perhitungannya pada artikel tersebut. Singkatnya, untuk perhitungannya sebagai berikut.

Misalkan selimut beton pada balok digunakan 25 mm.

a) Panjang satu buah besi tulangan sengkang

Ls = 2 x [(b – 2cc) + (h – 2cc)] + 2ℓext – (5 x 4db)

     = 2 x [(300 – 2 x 25) + (600 – 2 x 25)] – (2 x 75 mm) – (5 x 4 x 10)

     = 850 + 140 – 90 = 900 mm = 0,9 m

Panjang untuk satu buah sengkang adalah 900 mm atau sama dengan 0,9 mm, selanjutnya hitung panjang total dengan cara sebagai berikut.

b) Panjang total tulangan sengkang

Untuk mendapatkan total panjang dari sengkang, tinggal dikalikan panjang satu buah sengkang dengan jumlah sengkang. Sudah kita hitung sebelumnya jumlah sengkang yang dibutuhkan adalah 286 buah. Maka panjang total adalah sebagai berikut.

Ls.total = n x Ls

         = 286 x 0,9 = 257,4 m

3. Hitung kebutuhan batang besi beton dan berat tulangan sengkang

Jumlah besi beton per batang yang diperlukan adalah panjang batangan yang dijual di pasaran, umumnya panjang standar besi beton adalah 12 m. 

Sedangkan beratnya, dihitung berdasarkan berat nominal per meter panjang dari diameter besi yang digunakan. Untuk besi polos dengan diameter 10 mm (biasa dikenal dengan simbol ∅10) berat nominal per meternya adalah 0,617 kg/m. 

Untuk mengetahui berat tulangan berdasarkan beratnya bisa di berat besi beton.

Kebutuhan besi beton = Ls.total / panjang per batang besi

                                    = 257,4 / 12 = 21,45 batang, atau 21 batang dengan lebihan 5,4 meter

Untuk beratnya

S = Ls.total x berat nominal per meter ∅10

    = 257,4 x 0,617 =  158,816 kg

Catatan

Sedangkan pada kolom, perhitungannya sama saja. Tinggal digantikan panjang balok pada penjelasan di atas menjadi tinggi kolom lalu dikalikan dengan jumlah kolom. Langkah selanjutnya ikuti cara seperti di atas. 

Sekian untuk perhitungan kebutuhan dan volume besi beton untuk tulangan sengkang. Semoga bermanfaat.

Ringkasan Cara Menghitung Kebutuhan Besi Sengkang

Kebutuhan sengkang ditentukan dari panjang zona, jarak pemasangan, jumlah potongan, panjang potong, diameter, berat per meter, sambungan, dan waste. Keputusan yang baik harus berdasarkan kebutuhan, data yang dapat diperiksa, kondisi lapangan, spesifikasi, biaya, risiko, dan kemampuan pelaksanaan. Tampilan atau angka awal tidak cukup jika asumsi, satuan, sumber, serta batas penggunaannya tidak dijelaskan.

Panduan ini memperluas pembahasan lama dengan alur kerja, contoh pertimbangan, checklist, kesalahan umum, pengendalian mutu, dan FAQ. Gunakan sebagai materi edukasi dan tahap awal perencanaan. Untuk pekerjaan yang memengaruhi struktur, keselamatan, legalitas, utilitas, atau biaya besar, hasil akhir harus diperiksa tenaga profesional yang kompeten.

Rujukan utama: Katalog BSN untuk SNI 2847:2019. Periksa edisi, ruang lingkup, dan dokumen resmi terbaru sebelum mengambil keputusan teknis.

Aspek Penting yang Harus Dipahami

  • Baca zona dan spasi sengkang dari detail.
  • Hitung jumlah posisi secara konsisten.
  • Tentukan panjang potong dari garis pusat batang.
  • Masukkan kait dan tekukan.
  • Konversi panjang total menjadi batang serta berat.

Setiap aspek berkaitan dengan aspek lainnya. Mengubah ukuran, material, metode, lokasi, atau urutan kerja dapat memengaruhi mutu, biaya, waktu, keselamatan, dan perawatan. Karena itu, bandingkan alternatif dengan kriteria yang sama. Catat alasan pemilihan dan jangan menghapus opsi lain sebelum konsekuensinya dipahami.

Data yang Perlu Dikumpulkan

Mulailah dari data primer: ukuran aktual, kondisi permukaan atau tanah, fungsi ruang atau elemen, jumlah pengguna, beban, paparan cuaca, akses, elevasi, serta kondisi bangunan sekitar. Lengkapi dengan gambar, foto, spesifikasi produk, harga lokal, jadwal, ketersediaan tenaga dan alat, serta aturan yang relevan. Pisahkan data terukur, informasi dari pihak lain, dan asumsi sementara.

Periksa satuan dan tanggal setiap data. Harga, versi perangkat lunak, katalog produk, dan ketentuan dapat berubah. Untuk angka teknis, tuliskan sumber, metode pengukuran, tingkat ketelitian, dan rentang validitasnya. Jika data penting belum tersedia, tampilkan sebagai risiko atau pekerjaan lanjutan; jangan menggantinya dengan angka yang terlihat meyakinkan tetapi tidak memiliki dasar.

Langkah Kerja yang Sistematis

  1. Tetapkan tujuan. Jelaskan hasil yang dibutuhkan, pengguna, batas pekerjaan, target mutu, anggaran, dan waktu.
  2. Verifikasi kondisi. Lakukan survei, pengukuran, pemeriksaan dokumen, dan identifikasi keterbatasan lokasi.
  3. Susun alternatif. Buat sedikitnya dua pilihan yang layak dengan spesifikasi dan ruang lingkup yang dapat dibandingkan.
  4. Hitung konsekuensi. Tinjau kebutuhan material, tenaga, alat, biaya, durasi, risiko, limbah, dan perawatan.
  5. Koordinasikan. Pastikan arsitektur, struktur, utilitas, metode kerja, dan urutan pelaksanaan tidak saling bertentangan.
  6. Validasi. Gunakan perhitungan, mock-up, sampel, uji, atau pemeriksaan pihak kompeten sesuai tingkat risikonya.
  7. Dokumentasikan. Simpan keputusan, revisi, persetujuan, hasil inspeksi, dan kondisi terpasang agar dapat ditelusuri.

Contoh Penerapan

Pisahkan perhitungan zona tumpuan dan lapangan bila jaraknya berbeda. Hitung jumlah potongan setiap zona, lalu kalikan panjang potong per sengkang sebelum mengonversi ke batang komersial. Contoh tersebut menunjukkan bahwa jawaban bukan sekadar memilih produk atau memasukkan angka. Pengguna perlu memastikan inputnya benar, memahami keluaran, dan menilai apakah hasilnya sesuai kondisi nyata.

Jika satu variabel belum diketahui, buat beberapa skenario wajar dan tampilkan dampaknya. Misalnya, bandingkan mutu material, ukuran, harga, durasi, atau metode pemasangan. Analisis sensitivitas sederhana membantu mengetahui variabel mana yang paling memengaruhi keputusan dan data mana yang harus dipastikan terlebih dahulu.

Cara Menyusun Estimasi Biaya

Susun biaya dari volume yang dapat diukur dan harga satuan yang sesuai lokasi serta waktu. Pisahkan material, upah, alat, transportasi, persiapan, pengujian, perlindungan area, pembersihan, pajak, dan cadangan risiko. Untuk desain atau renovasi, masukkan pula biaya survei, pembongkaran, pembuangan, perbaikan bagian terkait, dan pekerjaan sementara.

Ketika membandingkan penawaran, samakan merek atau kelas mutu, ukuran, jumlah, metode, jadwal, garansi, serta komponen yang termasuk dan dikecualikan. Harga paket termurah dapat menjadi lebih mahal jika volume tidak jelas atau pekerjaan penting belum dihitung. Simpan catatan perubahan agar selisih biaya dapat dijelaskan.

Checklist Sebelum Pelaksanaan

  • Satuan gambar telah disamakan.
  • Sengkang rapat di zona khusus diperhitungkan.
  • Jumlah pada batas zona tidak dihitung ganda.
  • Bar bending schedule disetujui.
  • Sampel bending diperiksa.

Checklist bukan pengganti desain dan inspeksi, tetapi alat untuk mencegah informasi penting terlewat. Tetapkan siapa yang memeriksa setiap poin, kapan pemeriksaan dilakukan, bukti apa yang harus disimpan, dan tindakan apa yang diperlukan bila hasil tidak sesuai.

Pengendalian Mutu di Lapangan

Sebelum pekerjaan dimulai, pastikan gambar, spesifikasi, material, tenaga, alat, metode, dan area kerja telah siap. Buat contoh atau mock-up jika hasil visual dan detail pemasangan sulit dijelaskan. Periksa material saat datang: jenis, ukuran, kondisi, jumlah, nomor batch, sertifikat, serta cara penyimpanannya.

Lakukan inspeksi pada titik yang tidak dapat diperbaiki dengan mudah setelah tertutup. Ukur dimensi, posisi, elevasi, kelurusan, sambungan, kebersihan, kadar air, pemadatan, pengikat, atau parameter lain yang relevan. Foto saja tidak cukup; sertakan lokasi, tanggal, hasil ukur, penerimaan, dan tindakan koreksi.

Jika terdapat ketidaksesuaian, hentikan bagian pekerjaan terkait bila melanjutkannya dapat memperbesar kerusakan. Identifikasi penyebab, nilai dampak, tentukan perbaikan tertulis, lalu periksa ulang. Hindari menyembunyikan cacat dengan finishing sebelum fungsi dan keselamatannya dipastikan.

Operasional dan Perawatan

Nilai rancangan atau produk berdasarkan biaya siklus hidup, bukan hanya biaya awal. Periksa kemudahan pembersihan, akses inspeksi, ketersediaan suku cadang atau material pengganti, kebutuhan pelapisan ulang, konsumsi energi dan air, serta dampak ketika komponen rusak. Detail yang sederhana dan mudah dijangkau biasanya lebih mudah dipelihara.

Pada serah terima, mintalah data produk, manual, garansi, hasil pengujian, catatan perubahan, dan gambar sesuai kondisi terpasang. Susun jadwal perawatan berdasarkan tingkat risiko, intensitas penggunaan, paparan cuaca, serta petunjuk produsen. Gejala kecil seperti retak, lembap, karat, kelonggaran, perubahan suara, atau penurunan fungsi sebaiknya dicatat dan ditangani sebelum berkembang.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  1. Membagi panjang tanpa menambah posisi ujung.
  2. Memakai satu spasi untuk seluruh balok.
  3. Mengabaikan kait.
  4. Membulatkan setiap segmen terlalu awal.
  5. Mengubah diameter di lapangan.

Kebanyakan kesalahan bukan disebabkan satu keputusan, melainkan data tidak lengkap, komunikasi lemah, dan revisi yang tidak terkendali. Gunakan satu sumber dokumen yang berlaku, beri nomor revisi, dan pastikan keputusan teknis tidak hanya disampaikan secara lisan.

Cara Menjaga Kualitas Informasi

Utamakan sumber resmi, standar, buku teknis, panduan produsen, atau publikasi lembaga yang dapat dipertanggungjawabkan. Bedakan persyaratan wajib, praktik yang disarankan, dan preferensi desain. Hindari klaim mutlak seperti “pasti aman”, “dijamin anti bocor”, atau “selalu paling murah” tanpa kondisi serta bukti yang jelas.

Untuk konten internet, cek tanggal pembaruan, identitas penulis atau penerbit, konsistensi satuan, serta kesesuaian dengan Indonesia. Gambar dan tabel harus memiliki konteks dan hak penggunaan. Tautan internal sebaiknya membantu pembaca memahami konsep terkait, bukan dimasukkan hanya untuk mengejar SEO.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah contoh dan angka dalam artikel dapat langsung digunakan?

Gunakan sebagai ilustrasi awal. Verifikasi kembali ukuran, satuan, harga, mutu, kondisi lapangan, serta standar yang berlaku. Keputusan akhir harus mengikuti data proyek dan pemeriksaan tenaga kompeten.

Bagaimana jika data lapangan berbeda dari gambar?

Jangan memaksakan gambar. Catat perbedaannya, hentikan bagian yang terdampak, lalu koordinasikan revisi. Perubahan harus diperiksa pengaruhnya terhadap struktur, utilitas, biaya, waktu, fungsi, dan pekerjaan lain.

Apakah artikel panjang otomatis lebih baik untuk SEO?

Tidak. Konten harus orisinal, akurat, fokus pada kebutuhan pembaca, mudah dinavigasi, dan tidak berulang. Panjang membantu hanya bila setiap bagian menambah pemahaman. Pengalaman seluler, kecepatan, gambar yang relevan, sumber, dan kejelasan identitas situs juga penting.

Kapan harus memanggil tenaga profesional?

Libatkan tenaga profesional ketika pekerjaan memengaruhi struktur, fondasi, bangunan bertingkat, kelistrikan, gas, kebakaran, kesehatan, lingkungan, perizinan, atau kerugian besar. Pemeriksaan awal umumnya lebih murah daripada perbaikan setelah kegagalan.

Tentang Penulis

ADMIN SISIPIL

Kontributor SISIPIL.COM yang menyusun informasi seputar teknik sipil, konstruksi, material, dan hunian.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda wajib diisi.