Manajemen Risiko Pada Proyek Konstruksi

Manajemen Risiko Pada Proyek Konstruksi

Pada dasarnya, risiko pada proyek konstruksi tidak dapat sepenuhnya dihilangkan tetapi dapat diminimalisir. Manajemen risiko adalah sutu cara untuk meminimalisir risiko proyek konstruksi. Manajemen risiko diharapkan dapat mengatasi permasalahan – permasalahan risiko yang ada pada suatu proyek, karena manajemen risiko dibutuhkan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menindaklanjuti risiko – risiko yang mungkin terjadi dengan harapan risiko dapat diminimalisir agar proses pelaksanaan proyek dapat berjalan dengan lancar.

Manajemen risiko dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap terhadap keberhasilan proyek. Oleh karena itu, perlu dilakukannya analisis manajemen risiko pada proyek konstruksi, dengan harapan untuk mencegah dampak negatif dari risiko yang dapat mempengaruhi waktu, biaya dan mutu.

Definisi Manajemen Risiko

Dalam Project Management Body Of Knowledge / PMBOK (2017), manjemen risiko dapat didefinisikan sebagai berikut:

  1. Merupakan proses formal, dimana faktor-faktor risiko secara sistematis diidentifikasi, dianalisis dan ditangani.
  2. Merupakan suatu metode pengelolaan sistematis yang formal yang berkonsentrasi pada mengidentifikasi dan mengendalikan area atau kejadian-kejadian yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya perubahan yang tidak diinginkan.
  3. Di dalam konteks suatu proyek, merupakan suatu seni dan ilmu pengetahuan dalam mengidentifikasi, menganalisis dan merespon terhadap faktor-faktor risiko yang ada selama pelaksanaan suatu proyek.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen risiko adalah suatu sistem suatu proses yang sistematis terhadap pengelolaan risiko, proses identifikasi dan pengelompokan risiko, melakukan analisis terhadap risiko dan memprioritaskan risiko dengan tujuan untuk meminimalisir atau bahkan mengeleminasi risiko dari berbagai jenis risiko.

Tujuan Manajemen Risiko

Salah satu tujuan utama dari proses manajemen risiko adalah mengidentifikasi risiko yang “tidak diketahui”. Sedangkan risiko yang tidak dapat diketahui sepenuhnya tidak mungkin untuk diprediksi. Mendaftarkan risiko yang diketahui dan mengidentifikasikan sebanyak mungkin risiko yang tidak diketahui dapat mengurangi jumlah risiko yang tidak terduga pada proyek, sehingga adanya waktu terbagi untuk mengatasi risiko yang “tidak dapat diketahui”.

Adapun yang menjadi tujuan manajemen risiko adalah sebagai berikut (C. Duffield & B. Trigunarsyah, 1999):

  1. Membatasi kemungkinan-kemungkinan dari ketidakpastian
  2. Membuat langkah-langkah yang lebih mengarah pada tindakan proaktif dibandingkan reaktif dalam memandang kemungkinan ancaman dan kerugian yang besar
  3. Membatasi kerugian dan ketidakpastian pada stakeholder
  4. Menjaga kesinambungan program operasi, sehingga tidak terganggu dengan kejadian-kejadian yang belum terantisipasi sebelumnya
  5. Menjalankan program manajemen risiko secara efektif sehingga mempunyai pengaruh yang menguntungkan dan bukan menimbulkan biaya baru

Berdasarkan buku yang berjudul The Unknown Rises, Manajemen Risiko Proyek yang dikarang oleh Alin Veronika, manajemen risiko memberikan nilai terhadap proyek sebagai berikut:

  1. Memberikan kontribusi untuk keberhasilan proyek;
  2. Mengakui ketidakpastian dan memberikan perkiraan hasil yang mungkin;
  3. Menghasilkan hasil bisnis yang lebih baik melalui lebih banyak informasi pengambilan keputusan;
  4. Menawarkan pengendalian yang lebih baik terhadap waktu yang terbuang, fokus yang lebih besar pada manfaat;
  5. Membantu manajemen senior untuk memahami apa yang terjadi dengan proyek dan tantangan proyek yang harus diatasi.

Dengan demikian melalui manajemen risiko yang efektif dapat mengurangi besarnya dampak negatif akibat risiko dengan cara melakukan memprediksi risiko yang mungkin terjadi dan juga tindakan yang diambil terhadap risiko tersebut.

Identifikasi Risiko

Identifikasi risiko merupakan suatu proses yang secara sistematis dan berkesinambungan untuk mengidentifikasi risiko potensial yang dapat mempengaruhi sasaran proyek.

Dalam proses identifikasi risiko terdapat banyak alat bantu dan teknik yang digunakan untuk membantu proses mengidentifikasi risiko. Menurut Project Management Body Of Knowledge / PMBOK (2017), teknik untuk mendapatkan informasi yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko antara lain adalah:

  1. Curah Pendapat (Brainstorming)
    Tim proyek biasanya melakukan brainstorming, seringkali dengan pakar multidisiplin yang bukan bagian dari forumtim proyek dilibatkan dalam hal ini.
  2. Analisis Checklist
    Dimana proses ini dimaksud adalah daftar identifikasi risiko yang dikembangkan berdasarkan informasi dan pengetahuan yang telah ada terakumulasi dari proyek serupa sebelumnya.
  3. Wawancara (Interviewing)
    Wawancara (Interviewing) kepada pemangku kepentingan (stakeholder), ahli terhadap manajemen risiko, dan seseorang yang sudah berpengalaman mengenai kinerja proyek pada umumnya.
  4. Analisis Akar Penyebab (Root Cause Analysis)
    Analisis Akar Penyebab (Root Cause Analysis) atau analisis dari akar penyebab adalah teknik yang spesifik digunakan untuk mengidentifikasi masalah sebagai temuan dan penyebab utama dari masalah dan selanjutnya melakukan tindakan pencegahan.
  5. Assumption and constraint analysis
    Pada proses ini setiap proyek dan rencana yang telah disusun dan dikembangkan berdasarkan seperangkat hipotesis, skenario atau asumsi.|
  6. Analisis SWOT
    Analisis SWOT adalah teknik untuk mengkaji proyek dari masing-masing kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Dimana diistilahkan kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threats) ­/ SWOT.
  7. Analisis Dokumen (Document analysis)
    Analisis Dokumen (Document analysis)adalah teknik mengidentifikasi berdasarkan tinjauan terstruktur terhadap dokumen proyek, termasuk rencana, asumsi, kendala, arsip proyek sebelumnya, kontrak, perjanjian, dan dokumentasi teknis.

Analisis Risiko

Setelah risiko diidentifikasi, risiko tersebut dianalisis untuk mengetahui besarnya kemungkinan dan dampak risiko pada proyek sehingga langkah-langkah yang tepat dapat diambil untuk menguranginya.

Analisis risiko terbagi menjadi 2 yaitu analisis kualitatif  yang terfokus pada identifikasi dan penilaian risiko, serta analisis kuantitatif yang terfokus pada evaluasi probabilitas terhadap terjadinya risiko.

Analisis Risiko Kualitatif

Analisis Risiko Kualitatif menilai prioritas risiko proyek individu yang diidentifikasi menggunakan kemungkinan terjadinya, dampak yang sesuai pada tujuan proyek jika risiko terjadi, dan faktor-faktor lain. Penilaian tersebut bersifat subjektif karena didasarkan pada persepsi risiko oleh tim proyek dan stakeholder lainnya. Oleh karena itu, penilaian yang efektif memerlukan identifikasi dan pengelolaan yang eksplisit dari sikap risiko oleh peserta kunci dalam proses melakukan Analisis Risiko Kualitatif (Project Management Body Of Knowledge / PMBOK, 2017).

Analisis Risiko Kuantitatif

Analisis Risiko Kuantitatif adalah proses menganalisis secara numerik efek gabungan dari risiko proyek individu yang teridentifikasi dan sumber ketidakpastian lainnya pada tujuan proyek secara keseluruhan. Manfaat utama dari proses ini adalah mengkuantifikasi keseluruhan paparan risiko proyek, dan juga dapat memberikan informasi risiko kuantitatif tambahan untuk mendukung perencanaan respons risiko. Proses ini tidak diperlukan untuk setiap proyek, tetapi jika digunakan, proses ini dilakukan sepanjang proyek berlangsung (Project Management Body Of Knowledge / PMBOK, 2017).

Selanjutnya teknik yang dapat dilakukan dalam melakukan analisis risiko kualitatif adalah :

  1. Menentukan probabilitas dan pengaruh risiko.
  2. Probabilitas/pengaruh risiko berdasarkan matrik.
  3. Melakukan test asumsi proyek.
  4. Melakukan ranking terhadap data yang sudah lengkap.

Sedangkan hasil yang didapatkan melalui analisis risiko kualitatif adalah :

  1. Ranking risiko secara keseluruhan pada suatu proyek.
  2. Daftar (lists) pada risiko yang diprioritaskan.
  3. Daftar (list) risiko untuk tambahan analisis dan manajemen.
  4. Kecenderungan dalam hasil analisis risiko kualitatif

Mitigasi Risiko

Mitigasi risiko adalah tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi akibat dari risiko apabila risiko telah dapat terindentifikasi. Menurut Flanagan & Norman (1993) menguraikan ada 4 (empat ) cara untuk melakkukan mitigasi risiko anara lain:

  1. Menahan Risiko (Risk Retention).
    Sikap untuk menahan risiko sangat erat kaitannya dengan keuntungan (gain) yang terdapat dalam suatu risiko. Tindakan untuk menerima/menahan risiko ini karena dampak dari suatu kejadian yang merugikan masih dapat diterima (acceptable)
  2. Mengurangi Risiko (Risk Reduction)
    Mengurangi risiko dilakukan dengan mempelajari secara mendalam risiko itu sendiri, dan melakukan usaha-usaha pencegahan pada sumber risiko atau mengkombinasikan usaha agar risiko yang diterima tidak terjadi secara simultan. Dengan melakukan tindakan ini kadang-kadang masih ada risiko sisa (residual risk) yang perlu dilakukan penilaian (assessment).
  3. Memindahkan Risiko (Risk Transfer).
    Sikap pemindahan risiko dilakukan dengan cara mengasuransikan risiko yang dilakukan dengan memberikan sebagian atau keseluruhan kepada pihak yang mempunyai kemampuan menangani dan mengendalikannya.
  4. Menghindari Risiko (Risk Avoidance).
    Sikap menghindari risiko adalah menghindari kerugian dengan cara menghindari aktivitas yang tingkat kerugiannya tinggi. Menghindari risiko dapat dilakukan dengan melakukan penolakan. Salah satu contoh penghindaran risiko pada proyek konstruksi adalah dengan penolakan kontrak.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.